Surga Terlalu Tinggi, Sampai Lupa Menyapa Orang di Sebelah
Saya belakangan curiga:
banyak orang terlalu sibuk mengejar surga, sampai lupa caranya jadi manusia.
Bukan lupa doa.
Bukan lupa ibadah.
Tapi lupa menyapa, lupa mendengar, lupa menunda penghakiman lima detik saja.
Surga sering diceritakan sebagai tujuan akhir yang mulia.
Masalahnya, di perjalanan ke sana, ada yang merasa sah menggilas apa pun.
Nada bicara meninggi, empati ditipiskan, relasi dikorbankan—
semua atas nama “yang penting niat baik”.
Saya pernah melihatnya dekat.
Bahkan mungkin, pernah melakukannya.
Logikanya sederhana tapi berbahaya:
kalau tujuan saya surga, maka cara saya otomatis benar.
Kalau saya yakin paling lurus, maka yang beda pasti salah.
Di titik ini, surga berubah fungsi.
Bukan lagi tempat pulang,
tapi menara pengawas moral.
Dari atas sana, mudah menunjuk:
itu salah, ini sesat, yang itu kurang iman.
Padahal yang ditunjuk manusia semua—
capek, bingung, belajar sambil jatuh bangun.
Yang bikin saya geli sekaligus ngeri:
sering kali, orang paling sibuk bicara surga
adalah orang yang paling jarang membuat sekitarnya merasa aman.
Anak takut bicara.
Pasangan berjalan di atas kulit telur.
Lingkungan jadi tegang.
Surga diucapkan,
tapi neraka sosial dibangun pelan-pelan.
Di situ saya berhenti sejenak dan nanya ke diri sendiri:
kalau surga itu tentang kasih,
kenapa jalan menuju ke sana terasa dingin?
Mungkin karena sebagian dari kita salah paham.
Surga bukan piala lomba kesalehan.
Bukan garis finish untuk membenarkan sikap kasar di tengah jalan.
Bisa jadi, surga itu justru hasil samping
dari seseorang yang konsisten bersikap manusiawi
saat tidak ada yang menonton.
Saya mulai percaya satu hal:
kalau pencarian surga membuat saya kehilangan kelembutan,
maka ada yang salah, bukan pada surganya—
tapi pada cara saya memahaminya.
Kesimpulan versi saya, sambil menertawakan diri sendiri:
lebih baik berjalan biasa tapi menenangkan,
daripada berlari ke surga sambil menyeruduk kiri-kanan.
Kalau surga memang tujuan,
harusnya ia membuat saya lebih manusia,
bukan lebih galak.
Dan kalau suatu hari saya lupa lagi,
tolong ingatkan saya dengan kalimat sederhana saja:
“Turun dulu, sapa orang di sebelahmu.”
Itu saja.
0 komentar